Selamat Datang dan selamat belajar, semoga sukses !!!

Selasa, 19 Juli 2011

Rangkuman Materi Bab 1

A. Hakikat Apresiasi

Apresiasi dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal,
memahami, dan menghayati suatu karya sastra yang berakhir dengan
timbulnya pencelupan atau rasa menikmati karya tersebut dan berakibat
subjek apresiator bisa menghargai karya sastra yang dinikmatinya secara
sadar.

B. Proses Apresiasi

Untuk mengapresiasi sebuah karya sastra atau teks seni bahasa,
perlu dilakukan aktivitas berupa (1) mendengarkan/menyimak,(2)
membaca, (3) menonton, (4) mempelajari bagian-bagiannya, (5)
menceritakan kembali, (6) mengomentari, (7) meresensi, (8) membuat
parafrasa, (9) menjawab pertanyaan, (1) merasakan atau melakonkan,
(11) membuat sinopsis cerita.
Selain aktivitas merespons, juga melakukan langkah-langkah (1)
menginterprestasi, (2) menganalisis, (3) menikmati, (4) mengevaluasi,
dan (5) memberikan penghargaan

C. Jenis Apresiasi

Setelah melakukan pilihan kepada sebuah bentuk karya sastra
yang menarik pikiran dan perasaan atau jiwa seninya, seseorang akan
merespons karya tersebut dengan dua bentuk sikap atau jenis apresiatif,
yaitu:
1. apresiasi yang bersifat kinetik atau sikap tindakan, dan
2. apresiasi yang bersifat verbalitas

D. Pengertian Prosa

Prosa ialah karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak
terikat oleh rima, irama, dan kemerduan bunyi seperti puisi. Bahasa
prosa seperti bahasa sehari-hari. Menurut isinya prosa terdiri atas prosa
fiksi dan nonfiksi.

1. Prosa fiksi ialah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan
pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta.
Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugestif/ imajinatif. Prosa
fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan dongeng.
Di dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang
disebut unsur intrinsik, yaitu: tema, alur/plot, penokohan, latar,
amanat, sudut pandang pengarang, dan gaya bahasa.

2. Prosa nonfiksi
Prosa nonfiksi ialah karangan yang tidak berdasarkan rekaan atau
khayalan pengarang tetapi berisi hal-hal yang berupa informasi
faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang.
Prosa nonfiksi disebut juga karangan semi ilmiah, yang termasuk
karangan semi ilmiah ialah: artikel, tajuk rencana, opini, feature,
biografi, tips, reportase, jurnalisme baru, iklan, dan pidato.

E. Memahami Puisi

1. Pengertian Puisi
Puisi adalah wujud ekspresi pikiran dan batin seseorang
melalui kata-kata yang terpilih dan dapat mewakili berbagai
ungkapan makna sehingga menimbulkan tanggapan khusus,
keindahan, dan penafsiran beragam. Dalam pengertian bebas
yang lain, puisi disebut juga ucapan atau ekspresi tidak
langsung atau ucapan ke inti pati masalah, peristiwa, ataupun
narasi (Pradopo, 2005, 314).

2. Hakikat Puisi

Sebagai karya sastra, puisi tetap harus memiliki kemampuan
menampung segala unsur yang berkaitan dengan kesastraan.
Setidaknya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk
memahami hakikat puisi, yaitu: sifat seni, kepadatan, dan
ekspresi tidak langsung.

3. Unsur-unsur di dalam puisi

Selain memiliki unsur-unsur yang tampak seperti diksi, misalnya
(penggunaan ungkapan, majas, peribahasa), tipografi (pola
susunan puisi seperti larik, bait), serta rima/ritme (persamaan
bunyi), puisi juga memiliki unsur batin. Unsur batin di dalam
puisi meliputi: tema, rasa (nada, dan amanat).

Materi Pemelajaran smt gazal T.A. 2011/2012

BAB I. MENYIMAK UNTUK MEMAHAMI SECARA
KREATIF TEKS SENI BERBAHASA DAN TEKS
ILMIAH SEDERHANA

A. Hakikat Apresiasi 

B Proses Apresiasi
C. Jenis Apresiasi
D. Pengertian Prosa
E. Memahami puisi
UJI KOMPETENSI

BAB II. MENGAPRESIASI SECARA LISAN TEKS SENI
BERBAHASA DAN TEKS ILMIAH SEDERHANA


A. Diksi: Makna Idiomatik, Ungkapan, Majas, Peribahasa
B. Menangkap Pesan yang Tersirat dalam Karya Sastra
C. Memberi Tanggapan terhadap Prosa
D. Memberi Tanggapan terhadap Puisi
UJI KOMPETENSI


BAB III. MENULIS PROPOSAL UNTUK KEGIATAN ILMIAH
SEDERHANA


A. Pengertian Proposal
B. Sistematika Proposal
C. Bahasa Proposal

Kamis, 14 Juli 2011

Sekali lagi tentang ktsp

Ketika kita membaca sekilas judul tulisan ini, ingatan kita langsung tertuju pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Padahal yang penulis maksudkan adalah kata-kata yang diawali

dengan fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/. Lalu, ada apa dengan fonem ktsp?

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini media massa begitu gencar memopulerkan peristiwa luluhnya fonem /k/, /t/, /s/, /p/ di awal kata jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i. Tak urung, Pusat Bahasa pun merespon dengan baik. Apalagi guru bahasa Indonesia. Sungguh hal ini merupakan sasaran yang indah untuk dijadikan sebagai bahan menulis soal ulangan atau ujian. Misalnya: Kata berikut ini yang tidak baku adalah (a) mengkonsumsi, (b) memesona, (c) memengaruhi, (d) mentransfer, (e) memelopori.

Peserta didik atau mungkin guru bahasa Indonesia sekalipun apabila kurang mengikuti perkembangan kosakata, soal ini mungkin tergolong sulit. Padahal, kalau kita memahami rumus ktsp tentu jawabannya sangat mudah, yakni (a) mengkonsumsi. Fonem /k/ pada kata tersebut seharusnya luluh, menjadi mengon-sumsi.

Kata-kata yang diawali fonem /k/, /t/, /s/ atau /p/ lainya yang juga luluh karena mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i antara lain: mengalkulasi (kalkulasi), menelepon (telepon), menyekutukan (sekutu), dan memedomani (pedoman).

Fonem /t/ pada opsi atau pilihan jawaban (d) mentransfer memang tidak luluh karena kata tersebut diawali dengan deret konsonan /tr/. Hal semacam itu juga berlaku pada kata-kata yang lain, misalnya kata kredit, traktor, starter, dan produksi. Fonem /k/, /t/, /s/ dan /p/ di awal kata-kata tersebut jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i tidak luluh, yakni mengkredit, mentraktor, menstarter, dan memproduksi.

Pertanyaannya, apakah setiap fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ yang mengawali sebuah kata dipastikan luluh jika mendapat imbuhan me-, me-kan atau me-i. Jika hal tersebut sudah menjadi kaidah dalam bahasa Indonesia maka setiap kata harus diperlakukan sama agar tidak membingungkan pengguna bahasa Indonesia.

Di dalam KBBI Pusat Bahasa edisi keempat (2008) ternyata masih kita jumpai kata-kata yang tidak sesuai dengan kaidah di atas. Misalnya: kata mempunyai bukan memunyai, kata mempatroli bukan mematroli, memparafrasakan bukan memarafrasakan, mempermisikan bukan memermisikan.

Tidak jelas, alasan Pusat Bahasa memilih bentuk seperti itu. Mustakim dalam buku “Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum” menyatakan, huruf awal /p/ pada kata serapan dari bahasa asing tidak akan luluh jika digabung dengan imbuhan me- (1992:149). Jika hal ini yang dijadikan alasan, lalu bagai-manakah dengan kata mempunyai yang ada di dalam KBBI (2008: 1118). Apakah kata punya berasal dari unsur serapan asing? Kalau bukan, mengapa tidak ditulis memunyai?

Alasan Mustakim kiranya sulit untuk tetap dipertahankan. Sebab, di dalam KBBI (2008) cukup banyak kata serapan asing yang diawali dengan fonem /k/, /t/, /s/, /p/ namun fonem tersebut menjadi luluh apabila dibubuhi imbuhan me-, me-i, atau me-kan. Sebagai contoh: mengalkulasi (calculation), menyosialisasikan (social), menyuplai (suplay), menelepon (phone), dan sebagainya.

Kembali ke pertanyaan semula. Kapan-kah fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ akan luluh? Haruskah secara etimologis kita harus melihat asal-usulnya? Apakah hanya fonem /p/ di awal kata serapan yang tidak luluh jika mendapat imbuhan me-, me-i, atau me-kan? Adakah pertimbangan dari sisi linguistik?

Hal lain yang perlu dicermati bagi pengguna bahasa Indonesia adalah imbuhan me- tidak meluluhkan fonem /k/, /t/, /s/, atau /p/ jika dibubuhkan di depan kata yang hanya memiliki satu suku. Misalnya: mengekop (menyundul bola dengan kepala), mengetik, mengesol, dan mengepel.

Imbuhan me- juga tidak luluh jika dibubuhkan di depan kata berimbuhan yang diawali dengan fonem /k/, /t/, /s/, dan /p/. Misalnya: mentertawakan (tertawa), mempe-ragakan (peraga), memperhatikan (perhati/hati), dan sebagainya.

Akhirnya, marilah kita senantiasa konsisten untuk mematuhi kaidah penulisan kata dalam berbahasa Indonesia. Gunakan KBBI terkini (edisi keempat tahun 2008) sebagai salah satu acuan. Sebab perkembangan kosakata bahasa Indonesia memang begitu pesat. Sebagai contoh: KBBI edisi pertama (1988) hanya memuat 62 ribu lema, edisi kedua (1991) memuat 72 ribu lema, edisi ketiga (2001) memuat 78 ribu lema ditambah 2.034 peribahasa. Sedangkan KBBI edisi keempat (2008) sudah memuat 90.049 lema yang terdiri atas 41.250 lema pokok dan 48.799 sublema serta peribahasa sebanyak 2.036.

Penulis: Drs. Husin, M.M.

Kepala SMK Negeri 37 Jakarta